TERIMA KASIH ATAS KEPERCAYAAN YANG TELAH DIBERIKAN KEPADA KAMI....
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

MENGENAL LEBIH DEKAT ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (AUTISME)

PENDAHULUAN
                 Dalam dekade terakhir ini  jumlah anak yang di diagonisis mengalami gangguan autisme semakin meningkat diseluruh dunia tanpa batas geografis bangsa suku tingkat sosial-ekonomi dan pendidikan orang tuanya. Sebetulnya, gangguan autisme pada anak ini bukan masalah yang baru. Karena kita bisa membaca cerita dari zaman dahulu yang menceritakan tentang anak yang dianggap aneh karena sejak lahir sudah menunjukkan gejala perilaku yang tidak normal seperti meronta jika digendong, sering menangis dimalam hari dan banyak tidur disiang hari. Ia sering bicara-bicara sendiri dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh orang sekitarnya. Kalau marah  ia menjadi agresif, menyerang, mencakar, menjambak, menggigit atau menyakiti diri sendiri. Ia terkadang ketawa –ketawa sendiri seolah ada yang mengajaknya bercanda.
                Penyebab timbulnya gangguan ini belum bisa di identifikasi secara pasti. Beberapa hal ditengarai mengakibatkan timbulnya gangguan ini mulai dari gangguan metabolisme keracunan logam berat (polusi), faktor genetik (congenital).
                Pada saat ini harapan perbaikan/”penyembuhan” anak penderita gangguan ini semakin besar meskipun memerlukan upaya yang melelahkan dan makan waktu yang lama dan barang, tentu biaya yang cukup besar.
DIAGNOSIS
Sangat penting kita menegakkan diagnosis jenis gangguan apa yang dialami seseorang anak agar bisa  dibuat perencanaan interfensi/therapy yang tepat. Mengingat sejatinya apa yang awam kenali sebagai gangguan autisme sejatinya mencakup beberapa jenis gangguan.
                Dalam pedoman pembuatan diagnosis gangguan jiwa dikenal beberapa jenis  gangguan yang termasuk dalam gangguan autis antara lain :
1.       Gangguan pemusatan perhatian (ADD)
2.       Gangguan hiperaktif
                Diagnosis diatas disampaikan untuk kepentingan praktis saja karena tulisan  ini diperuntukkan kalangan  non medis .
Secara praktis kita bisa mengenali  kemungkinan adanya gangguan autisme apabila:
BAYI LAHIR SAMPAI USIA 6 BULAN         
·         Anak terlalu “baik”/tenang
·         Banyak menangis terutama pada malam hari
·         Jarang menunjukkan senyum dan sosial
·         Jarang menunjukkan kontak mata
·         Perkembangan psikomotorik nampaknya normal
USIA 6  BULAN SAMPAI 2 TAHUN
·         Tidak mau kontak fisik secara hangat dengan orang
·         Cuek  terhadap orang lain bahkan terhadap orang tuanya
·         Tidak mau terlibat bermain dengan teman – temannya
·         Tidak mau menggunakan bahasa verbal/sangat minim
·         Mungkin ada kesulitan mengunyah makanannya
·         Kadang sangat  tertarik perhatiannya pada kedua tangannya sendiri
USIA  2 SAMPAI 3 TAHUN
·         Tidak tertarik (terbatas)  atau menunjukkan perhatian khusus pada obyek tertentu
·         Menganggap  orang lain  sebagai benda
·         Kontak mata sangat minimal
·         Memperlakukan benda secara aneh  : mencium dan menjilat
·         Relatif cuek terhadap orang tuanya
·         Menolak kontak fisik  yang hangat dengan orang lain
USIA 4 SAMPAI 5 TAHUN
·         Kadang mengulang – ulang kalimat/kata yang diucapkan orang lain
·         Sangat terikat dengan kebiasaan yang rutin dilakukan setiap hari
·         Kontak mata terbatas
·         Kadang melakukan kegiatan melukai diri
·         Masih sering tantrum atau  perilaku agresif
Hal – hal diatas adalah hal – hal yang praktis bisa diamati oleh orang lain terutama Orang Tua anak ataupun Pendidik.
                    Ada pula tool (alat) lain untuk memeriksa dan membuat diagnosis terjadinya gangguan autisme pada anak yaitu dengan menggunakan metode CHAT, dimana pemeriksaan dilakukan dengan dua tahap, yaitu :
Mula – mula dilakukan wawancara dengan orang tua anak dan yang kedua dengan mengamati (tabel).
Tiga  gejala dalam metode CHAT ini dianggap sangat akurat untuk diagnosis yaitu :
1. Pemeriksa menunjuk pada suatu benda untu menarik perhatian anak.
2. Orang lain menunjuk pada suatu benda, amati apakah anak ikut melihat obyek ?
3. Pemeriksa bermain pura – pura, amati apakah anak memberikan perhatian ?
                      Apabila dalam ketiga test ini seorang anak tidak bisa memberikan respon  yang memadai maka hampir pasti anak tersebut mengalami gangguan autisme.
Tabel C H A T      :
Ya
Tidak
1.       Apakah saat pemeriksaan anak memperlihatkan kontak mata dengan Anda?
Ya
Tidak
2.       Tarik perhatian anak dan arahkan perhatian tersebut pada suatu benda, amati apakah anak mampu melakukan atau tidak?
Ya
Tidak
3.       Upayakan tarik perhatian anak ajak pura – pura bermain, minum teh. Lihat apakah anak mampu melakukan permainan itu atau tidak?
Ya
Tidak
4.       Tanyakan pada anak, misalnya mana lampu? Lihat apakah anak mampu menunjuk ke Lampu?
Ya
Tidak
5.       Ajak anak untuk bermain menyusun balok, lihat berapa yang bisa disusun oleh anak tersebut?

                      Secara umum bisa disimpulkan bahwa gambaran perilaku anak dengan gangguan autis adalah sebagai berikut:
1.       Ketidakmampuan menjalin hubungan sosial.
2.       Ketidakmampuan menggunakan bahasa secara normal untuk berkomunikasi.
3.       Keinginan yang bersifat obsesif untuk mempertahankan sesuatu yang sama.
4.       Mempunyai ketertarikan yang sangat pada suatu obyek/benda tertentu.
5.       Mempunyai potensi kognitif yang baik.
6.       Ciri – ciri tersebut sudah nampak sebelum usia anak mencapai 30 bulan
 SEGI  BIOMEDIK  PADA GANGGUAN AUTISME
                      Dengan semakin banyaknya anak penyandang autisme menggugah perhatian para peneliti  dan para ahli untuk melakukan penelitian apakah penyebab dari gangguan tersebut. Banyak  antara lain kondisi lingkungan hidup yang sudah sangat terpolusi dengan zat – zat yang bersifat racun ataupun polusi logam berat dilingkungan, adanya berbagai macam  alergi yang di derita anak sampai  adanya fakta yang kontroversial yang mengatakan adanya  hubungan dengan pemberian vaksin yang memakai zat thimerosal sebagai pengawet. Namun, kesemua ini masih perlu penelitian lebih jauh.
                      Gangguan dalam  tubuh anak bisa mempengaruhi fungsi otaknya sehingga  timbul gangguan perkembangan dibidang mental yang muncul dalam bentuk gangguan  kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi. Dengan terungkapnya hal – hal tersebut maka timbul kesadaran bahwa anak – anak ini tidak saja harus ditangani gangguan perkembangannya namun harus pula diperbaiki seluruh metabolisme tubuhnya.
1. Keracunan logam  berat :  Pada pemeriksaan laboratorium pada rambut dan darah anak – anak  penderita autisme ternyata diketemukan banyak kandungan logam berat yang ternyata logam berat tersebut bersifat  sangat  toxsic bagi  otak. Logam berat tersebut misalnya  : As.Cd, Hg, Sb dan Pb.
2. Alergi terhadap makanan tertentu. Terdapat kesepakatan para ahli bahwa autisme pada anak dapat terjadi akibat anak tersebut alergi terhadap protein susu sapi dan domba (casein) dan alergi terhadap  protein dari gandum (gluten/gliadin)
3. Faktor Genetik : Penelitian faktor genetik pada anak autisme masih terus dilakukan. Diketemukan  sampai saat ini ada sekitar 20 gen yang berkaitan dengan autisme. Namun, dipastikan bahwa untuk  munculnya gangguan autisme perlu ada pemicu yang lain.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
                        Pemeriksaan  laboratorium sangat perlu dilakukan pada anak dengan autisme, bertujuan untuk mencari adanya gangguan metabolisme pada anak yang bisa memperberat gejala autismenya. Bahan yang diperiksa  adalah :
1.       Feses     : Pemeriksaan feses bisa mengungkapkan adanya mikroba dalam usus yang menandakan adanya gangguan pencernaan, dan lain – lain.
2.       Urine     : Pemeriksaan urine ditujukan untuk mengukur banyaknya peptide yang keluar dari urine untuk  mencari informasi adanya alergi terhadap  casein dan gluten.
3.       Darah    : Pemeriksaan darah lengkap untuk mendapatkan informasi apakah ada keracunan yang sedang berlangsung pada anak.
4.       Rambut : Pemeriksaan rambut dilakukan untuk  mengetahui kandungan berbagai macam mineral dan logam berat dalam tubuh. Adanya logam berat pada rambut menandakan adanya keracunan yang sudah cukup lama ( lebih 6 bulan).
INTERVENSI DAN TERAPI
                        Gangguan autisme  merupakan  gangguan yang sangat kompleks baik  dari spectrum gejalanya maupun faktor – faktor penyebab maupun pencetusnya. Kondisi seperti ini tentunya tidak bisa diatasi oleh satu disiplin ilmu saja. Perlu kerja sama antara berbagai disiplin ilmu seperti ahli medis psikolog ahli  pendidikan khusus, ahli terapi wicara. Terapis okupasi fisioterapis, dan lain – lain.
Tujuan dari terapi  adalah  untuk ;
1. Mengurangi masalah gangguan perilaku dalam arti yang luas.
2. Meningkatkan kemampuan belajar  dan perkembangannya.
Secara garis besar manajemen anak autis dapat dibagi dua  yaitu :
1.       Manajemen Non-Medikamentosa
Dilakukan oleh berbagai  macam terapis seperti, terapi wicara, terapi okupasi. Terapi perilaku terapi edukasi. Masing – masing bekerja untuk memperbaiki aspek tertentu yang merupakan kendala (problem) pada anak.
2.       Manajemen dengan Medikamentosa
Anak  dengan gangguan autisme sering kali  menunjukkan perilaku yang sangat mengganggu sehingga menimbulkan suasana yang stressful bagi lingkungannya, pengasuh, saudara kandung maupun guru/terapisnya. Sehingga, seringkali anak memerlukan terapi medikamentosa  yang ditujukan untuk meredakan perilaku mengganggu tersebut. Terhadap gejala amarah impulsifitas merusak diri maupun lingkungan  ataupun perilaku hiperaktif pada anak dapat diberikan anti psikotik dosis rendah ataupun beberapa obat lain.
                Terapi medikamentosa dapat pula diberikan untuk memperbaiki keadaan in-atensi. Untuk tujuan ini biasanya kita memberikan obat stimulant seperti methylphenidate.
                Pada anak autis dengan gejala insomnia  dapat diberikan obat tertentu seperti diphenhydramine  untuk pemberian dalam jangka waktu singkat.
                Bilamana gangguan metabolisme merupakan problem utama dapat dilakukan intervensi bio medis seperti pemberian diet  GFCF, atau melakukan terapi kelasi.
PENUTUP
                 Dari uraian singkat diatas kita mendapat gambaran betapa kompleksnya masalah yang dihadapi anak dengan gangguan autisme. Sampai saat ini banyak penelitian dilakukan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih jelas tentang gangguan ini. Perkembangan ilmu demikian pesat kita saksikan sehingga selalu ada hal baru yang memberikan lebih banyak harapan  dalam membuat diagnose. Pemeriksaan dan  pemberian terapi bagi anak dengan gangguan autis ini. Untuk  mendapatkan hasil yang optimal dalam terapi autis perlu kerja sama yang erat antara  orang tua pendidik dan terapis.


Sumber :
dr. P. Nugroho, Sp.KJ

Delete this element to display blogger navbar

 
© RS Citra Harapan | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Develop by WELL PRO Management
Powered by Blogger