TERIMA KASIH ATAS KEPERCAYAAN YANG TELAH DIBERIKAN KEPADA KAMI....
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

OSTEOARTHRITIS ( OA )



Narasumber
dr. Jusni Emelia, Sp.KFR


               Osteoarthritis(OA ) adalah kelainan yang terjadi pada sendi yang bisa bergerak , yang ditandai oleh menipisnya atau hilangnya tulang rawan sendi serta terbentuknya tulang baru ( osteofit ) pada subchondral dan tepi tulang. 

Sendi- sendi yang menjadi predileksi terjadinya OA adalah :

  • Sendi penyokong berat badan ( weight bearing joint ) seperti sendi paha dan sendi lutut
  • Sendi interfalang proksimal dan distal 

  • Sendi- sendi pada tulang belakang ( facet joint ) 
               Sendi- sendi yang jarang mengalami OA adalah sendi bahu, sendi pergelangan tangan dan pergelangan kaki.

Klasifikasi
               
          Osteoarthritis dibagi menjadi 2 kelompok besar yaitu :
  • OA primer ( idiopatik ) : Bila gejala OA timbul tidak diketahui penyakit yang mendasari dan faktor predisposisinya. Jenis ini paling banyak dijumpai pada usia lebih dari 50 tahun, bisa menyerang lebih dari satu sendi.
  • OA sekunder : Bila gejala OA terjadi karena adanya suatu penyebab, seperti Kelainan kongenital pada sendi, Gangguan metabolic, Gangguan endokrin, Faktor genetik, Infeksi, Trauma, Obesitas, Dll.

Faktor Risiko
1.    Umur
2.    Jenis Kelamin
3.    Obesitas
4.    Penggunaan Sendi
5.    Penyakit Radang Sendi
6.    Penyakit Endokrin
7.    Faktorgenetik
8.    Trauma
9.    Dan Lain- Lain
Patogenesis Terjadinya OA
        Osteoarthritis ( OA ) terjadi bukan sekedar karena proses umur, tetapi lebih merupakan akibat proses biokimia dan biomekanik abnormal yang dialami rawan sendi, berupa ketidak seimbangan antara tekanan pada sendi dengan kemampuan fisiologis sistem peredam kejut ( shock absorber ) jaringan lunak, tulang rawan dan tulang pembentuk sendi, faktor metabolik, faktor trauma, dan faktor kegemukan.
       Perubahan yang pertama terjadi pada OA adalah ketidakrataan rawan sendi di susulul serasi dan hilangnya rawan sendi sehingga terjadi kontak tulang dengan tulang dalam sendi di susul dengan terbentuknya kista subchondral, osteofit pada tepi tulang dan reaksi radang pada membran sinovial. Pembengkakan sendi, penebalan membran sinovial dan kapsul sendi, serta teregangnya ligamen menyebabkan ketidakstabilan dan deformitas.
        Otot sekitar sendi menjadi lemah karena efusisinovial dan disuse atrofi pada satu sisi dan spasmeotot pada sisi lain. Perubahan biomekanik ini disertai dengan perubahan biokimia dimana terjadi gangguan metabolisme kondrosit, gangguan biokimia matrikakibatter bentuknya enzim metaloproteinase( MPP ) yang memecahkan proteoglikan dan kolagen.
Rawan sendi pada keadaan normal melapisi ujung tulang. Matrik tulang rawan sendi mempunyai dua tipe makromolekul yaitu proteoglikan dan kolagen disamping mineral, air, danenzim. Proteoglikan terdiri atas protein dengan rantai glikosaminoglikan, kondroitin sulfat dan keratin sulfat. Proteoglikan bergabung dengang likosaminoglikan lain dan protein lain yang berfungsi menstabilkan dan memperkuat rawan sendi. 
       Kolagen penting untuk integritas struktur dan kemampuan fungsi rawan sendi. Kolagen rawan sendi adalah kolagen tipe II. Stres mekanik yang terjadi akan mempengaruhi metabilisme kondrosit, pelepasan enzim MPP dan gangguan biokimia sifat matrik sehingga terdapat penurunan kadar proteoglikan sedangkan kolagen masih normal, sementara sintesis kondrosit meningkat sebagai tanda usaha memperbaiki diri. Sintesis kondrosit meningkatkankan kuantitas sitokin seperti interleukin I ( IL I ) Tumor Necrosis Factor ( TNFa ) enzim kologenase, gelatin IL I dan TNFa sebagai media yang akan mengaktifkan enzim proteolitik. Enzim MPP akan menyebabkan pemecahan proteoglikan dan kolagen. Enzim MPP dalam keadaan normal dihambat oleh Tissue Inhibitor of Metaloprotein ( TIMP ). Secara teoritis ketidak seimbangan antara produksi MPP dan TIMP akan menyebabkan peningkatan proteolisis matrik sehingga terjadi degenerasi rawan sendi (OA ).
        Rawan sendi menjadi lunak , timbul celah yang akan mencapai subchondral sehingga terbentuk kista. Serpihan rawan sendi yang mengandung protein kolagen dan kristal fosfat kalsium terapung dalam cairan sendi akan difagosit sel membran sinovial sehingga terjadi reaksi radang ( sinovitis ). Osteofit terjadi karena serpihan rawan sendi yang tumbuh menjadi tulang yang keras.


Pemeriksaan Fisik
  • Gejala 
          1. Nyeri Sendi 
          2. Kekakuan Sendi 
          3. Keterbatasan Lingkup Gerak Sendi 
          4. Krepitasi 
          5. Pembengkakan Sendi

Pemeriksaan Sendi
  • Joint tenderness
  • Bone enlargement
  • Malalignment
  • Perabaan hangat
  • Pembengkakan sendi
  • Krepitasi
  • Spasme, atrofi atau kelemahan otot
  • Osteofit, permukaan sendi yang irregular
  • Locking saat pemeriksaan ROM
  • Kontraktur sendi

Pemeriksaan Neuromuskuler :
  •          Atrofi dan kelemahan otot terjadi pada OA kronik
  •          Pastikan nyeri bukan disebabkan oleh suatu impingement  atau proses neuropati.
  •          Observasi pola jalan, biasanya antalgic gait atau slow gait,  karena adanya nyeri
  •          Mungkin saja pasien datang menggunakan alat bantu seperti tongkat
  •         Evaluasi terhadap fleksibilitas sendi.

Keterbatasan Fungsi yang MungkinTerjadi
        Tergantung pada sendi mana yang mengalami OA. Pada OA paha dan lutut, pasien akan sering mengeluh jalannya menjadi lambat, kesulitan naik turun tangga, kesulitan untuk transfer, seperti naik turun mobil, duduk di kursi, dll. Pada OA bahu atau tangan, pasien akan mengeluh kesulitan melakukan aktifitas vokasional, ADL, rekreasi, dll. Sedangkan padaOA spinal, pasien akan mengalami gangguan untuk mobilitas.

Pemeriksaan Penunjang
1.  Rontgen Foto
Akan ditemukan gambaran : Penyempitan celah sendi, osteofit, sclerosis kortek, kista subchondral

2.  Pemeriksaan Laboratorium
Dalam batas normal

Penatalaksanaan Osteoartirits
Ada 4 prinsip penatalaksanaan OA :
1. Mencegah terjadinya toksisitas obat
2. Mencegah terjadinya disabilitas fisik
3. Mengobati nyeri  dan keluhan lainnya
4. Memaksimalkan fungsi fisik dan psikososial
          Sampai saat ini belum ada intervensi yang bisa merubah progresifitas dari OA. Sejumlah intervensi hanya ditujukan pada penatalaksanaan nyeri dan kekakuan serta memperbaiki status fungsional.

Penatalaksanaan OA
 
          Penata laksanaan yang bisa diberikan padaOsteoartritis( OA ) yaitu :
     1.  Penatalaksanaan Awal ( initial )
           Rejimen PRICE :
           ·         Protection      :  membatasi weight bearing dengan menggunakan cane atau
                                              modifikasi exercise untuk mengurangi stres.
           ·         Relative rest   :  istirahat yang cukup, menghindari berdiri lama, naik turun tangga dll
           ·         Ice                     :  menggunakan kompres dingin beberapa kali sehari )
           ·         Compression :  jika terdapat edem, balut dengan elastic bandage mungkin bisa
                                              membantu mengurangi edem
           ·         Elevation         :  bisa membantu mengurangi pembengkakan

      2.  Obat- Obatan
            Obat- obatan yang di gunakan untuk mengatasi nyeri pada OA adalah golongan
            NSAIDS. Obat lain yang sekarang sedang populer digunakan adalah preparat
            glukosamin khondroitin yang merupakan substrat yang berperan dalam sintesis rawan
            sendi. Injeksi steroid atau asam hyaluronat juga bisa digunakan.
       3.  Rehabilitasi
             Program rehabilitasi pada OA bertujuan untuk :
             -   Edukasi
                 Edukasi sangat menunjang keberhasilan penatalaksanaan rehabilitasi medik
                 karena penderita mengerti mengenai penyakit itu sendiri, melakukan aktifitas 
                 perlindungan sendi, sehingga dapat mempertahankan perbaikan integritas 
                 biomekanik sendi yang dihasilkan oleh terapi, mencegah progresifitas penyakit dan 
                 meningkatkan kualitas hidup penderita OA.
             -   Penggunaan Modalitas
                 Sesuai dengan prinsip penatalaksanaan OA, maka berbagai modalitas telah
                 digunakan untuk pasien OA.
                 Modalitas yang bisa digunakan adalah Modalitas dingin, Modalitas panas 
                 ( superficial, deep ), Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation ( TENS ),Ultrasound, 
                  LASER, Hidroterapi, dll . 
  
              -   Exercise ( Terapi Latihan )
                  Terapi latihan untuk pasien OA diantaranya adalah :
                  a. Stretching ( latihan peregangan ) terhadap otot- otot di sekitar sendi yang
                       mengalami OA.
                  b. Strengthening exercise ( latihan penguatan ) untuk otot- otot di sekitar sendi
                  c.  Latihan Aerobik 

               -   Alat Bantu Jalan
                   Cane dan walker digunakan untuk menurunkan beban pada sendi sehingga
                   membantu menurunkan nyeri dan mencegah jatuh.
              
               -   Ortosis Prosthesis
                   Penggunaan brace dan taping mampu mengurangi nyeri dan memperbaiki fungsi
                   pada sendi yang mengalami OA.
     
          4.   Operasi


Komplikasi
    -   Komplikasi penyakit : Immobilisasi, penurunan kapasitas okupasional, rekreasi dan
         sosial, menurunkan keahlian merawat diri sendiri.
    -    Komplikasi pengobatan : bisa terjadi gangguan fungi ginjal, saluran cerna dan hati karena
         efek samping obat.


Terima Kasih... Semoga Bermanfaat

Disampaikan pada Talkshow Kesehatan
di Radio Elgangga  100,3 FM
( 23 April 2013 )

" Memberikan Pelayanan Terbaik untuk Kepuasan Pasien & Keluarga "

Delete this element to display blogger navbar

 
© RS Citra Harapan | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Develop by WELL PRO Management
Powered by Blogger