TERIMA KASIH ATAS KEPERCAYAAN YANG TELAH DIBERIKAN KEPADA KAMI....
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

DIAGNOSIS & TERAPI TB Makalah Kesehatan Disampaikan ON AIR Talkshow Radio pada jum'at 25 Agustus 2017 ( Narasumber dr Rizky Andriani, Sp.P, FAPSR )



DIAGNOSIS DAN TERAPI TB

Penyakit tuberkulosis (penyakit TB atau sebelumnya sering dikenal dengan istilah “TBC” atau “flek paru” oleh masyarakat) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis (kuman TB). Penyakit tuberkulosis merupakan penyakit yang dapat menular melalui percikan dahak yang dikeluarkan oleh pasien TB saat pasien batuk atau bersin. Infeksi dapat terjadi jika orang lain menghirup udara yang mengandung percikan dahak yang infeksius tersebut. Berdasarkan data WHO Global Tuberculosis Report tahun 2016, Indonesia merupakan negara dengan kasus TB terbanyak kedua di dunia setelah India sehingga sangat banyak kasus TB yang dapat ditemukan dalam praktik sehari-hari di Indonesia. 

Penyakit TB dapat mengenai berbagai organ di dalam tubuh seperti paru, pleura, kelenjar getah bening, perut, saluran kencing, kulit, sendi, selaput otak dan tulang namun kasus terbanyak adalah TB pada organ paru (TB paru). Gejala yang dapat terjadi bergantung pada organ tubuh yang terkena. Pada TB paru, keluhan yang sering muncul adalah batuk dalam periode ≥2 minggu yang tidak diketahui penyebabnya, batuk darah, sesak napas atau nyeri dada. Keluhan dan gejala klinis lain yang dapat menyertai adalah demam, berkeringat di malam hari, merasa lemah dan lesu, berat badan menurun hingga badan menjadi kurus sekali (anoreksia) tanpa penyebab yang jelas. Keluhan dan gejala klinis pada TB yang terjadi di luar organ paru tergantung pada organ tubuh yang terlibat. Pada limfadenitis TB (TB pada kelenjar getah bening tubuh) akan terjadi pembesaran kelenjar getah bening yang lambat dan tidak nyeri di bagian tubuh tertentu seperti leher, ketiak dan lainnya. Pada meningitis TB (TB pada selaput otak) akan terlihat berbagai gejala meningitis seperti pusing, sakit kepala atau kejang tanpa sebab yang jelas. Pada pleuritis TB (TB pada pleura) didapatkan gejala sesak napas atau nyeri dada pada sisi pleura yang sakit. Gejala TB sangat bervariasi mulai dari yang tidak ada gejala, ringan hingga berat dikarenakan luas lesi dan organ tubuh yang terkena sehingga diperlukan pengamatan yang cermat oleh dokter terlatih untuk mendiagnosis TB, terutama TB di luar paru.

 Jika anda/ orang terdekat anda mengalami salah satu/berbagai gejala yang telah disebutkan sebelumnya, sebaiknya segera berobat ke dokter atau dokter Spesialis Paru untuk pemeriksaan lebih lanjut. Pemeriksaan untuk mendeteksi dan mendiagnosis TB (terutama TB paru) yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan dahak BTA atau Basil Tahan Asam (idealnya sebanyak 3 kali) dan/atau foto toraks. Pemeriksaan dahak BTA sebaiknya dilakukan pada waktu pagi hari dan sebelum sarapan dalam waktu 3 hari berturut-turut. Pilihan lain dengan metode Sewaktu-Pagi-Sewaktu, yaitu saat pasien berobat ke dokter pertama kali (dahak I), saat pagi hari keesokan harinya (dahak II) dan terakhir saat pasien datang membawa dahak II ke fasilitas laboratorium (dahak III). Pemeriksaan foto toraks digunakan untuk menentukan letak dan luas lesi TB serta dapat dilakukan kapan saja kecuali pada pasien perempuan yang sedang hamil. Kedua jenis pemeriksaan ini dapat dilakukan di puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan yang memiliki laboratorium serta unit radiologi. Diagnosis TB dapat ditegakkan atas pertimbangan dokter dengan bantuan pemeriksaan dahak BTA dan/atau foto toraks.

Jika anda terduga mengalami TB di luar organ paru (disebut TB ekstra paru) seperti pleura, kelenjar getah bening, organ perut, saluran kencing, kulit, sendi, selaput otak dan tulang, pemeriksaan yang ideal untuk dilakukan adalah pengambilan sampel cairan atau jaringan dari bagian tubuh yang terduga terkena TB tersebut baik dalam bentuk cairan (sitologi) atau jaringan (histopatologi). Sampel yang didapat sebaiknya dikirimkan ke laboratorium Mikrobiologi dan/atau Patologi Anatomi untuk dievaluasi lebih lanjut. Diagnosis TB ekstra paru ditetapkan berdasarkan penilaian klinis ahli TB dibantu dengan pemeriksaan bakteriologis dengan penemuan kuman TB atau kelainan jaringan yang disebabkan oleh TB. Pada kasus-kasus ini, kerja sama antara dokter Spesialis Paru, dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik, dokter Spesialis Patologi Anatomi, dokter Spesialis Patologi Klinik dengan dokter Spesialis terkait organ yang terkena sangat penting. Sulit untuk mendiagnosis TB ekstra paru sehingga diperlukan evaluasi dan pemeriksaan yang hati-hati sehingga diagnosis TB ekstra paru dapat ditegakkan.

Jika telah didiagnosis TB, jangan takut karena TB dapat diobati. Pengobatan TB cukup lama yaitu minimal 6 bulan hingga 12 bulan, tergantung pada luas dan lokasi organ yang terkena. Pengobatan TB pada pasien yang terkena TB pertama kali terdiri dari 4 jenis obat yaitu Rifampisin, Isoniazid, Pyrazinamid dan Etambutol.  Keempat jenis obat ini harus dimakan setiap hari dengan dosis dan anjuran dokter. Saat pengobatan, pasien sebaiknya kontrol setiap 2 hingga 4 minggu sekali untuk mengevaluasi kepatuhan minum obat, dosis obat, efek samping obat dan perbaikan klinis pasien. Tidak dianjurkan untuk meminum obat-obat TB tanpa pengawasan dokter. Selama pengobatan, akan dilakukan evaluasi secara klinis, foto toraks ulang, pemeriksaan dahak ulang bahkan pemeriksaan darah sesuai pertimbangan dokter. Pengobatan TB dapat dihentikan jika dokter atau dokter Spesialis Paru telah melakukan evaluasi dan memutuskan bahwa pasien telah selesai berobat dan sembuh dari TB.
Penting diingat bahwa pasien dapat mengalami TB kembali setelah sembuh dari episode TB yang pertama kali (disebut juga TB kasus kambuh). Pasien yang mengalami TB kasus kambuh memiliki gejala klinis dan keluhan serupa dengan yang telah dijelaskan sebelumnya. Penegakkan diagnosis TB kasus kambuh harus dilakukan oleh dokter terlatih dan sebaiknya dirujuk ke dokter Spesialis Paru untuk penanganan lebih lanjut. Pengobatan TB kasus kambuh hampir mirip dengan pengobatan TB pertama kali namun disertai dengan penambahan obat suntikan Streptomisin secara intramuskular dalam periode 2-3 bulan pertama. Pengobatan pada kasus kambuh lebih lama yaitu minimal 8 bulan dan harus dievaluasi secara ketat oleh dokter. Jika terjadi efek samping selama pengobatan TB seperti mual, muntah, alergi obat, gangguan liver, gangguan ginjal dan lainnya sebaiknya pasien segera dirujuk ke dokter Spesialis Paru untuk penanganan lebih lanjut.  

Yang penting diingat tentang tuberkulosis atau TB adalah penyakit ini dapat menular jika tidak ditangani dengan baik sehingga penting untuk selalu kontrol dan berobat ke dokter hingga telah dinyatakan sembuh. Pasien yang memiliki keluhan batuk ≥2 minggu tanpa sebab yang jelas dengan salah satu/lebih gejala diatas sebaiknya segera diperiksakan ke dokter atau dokter Spesialis Paru untuk memastikan diagnosis TB. Jika anda/orang terdekat memiliki keluhan batuk, biasakanlah untuk selalu tutup hidung/mulut anda dengan tissu/sapu tangan/ lengan baju setiap batuk agar tidak mengenai orang sekitar anda, segera buang tissu yang sudah dipakai ke dalam tempat sampah. Jangan meludah sembarangan. Berhentilah merokok. Selalu rajin mencuci tangan dengan air bersih dan sabun atau pencuci tangan berbasis alkohol. Jangan lupa untuk selalu memakai masker setiap beraktivitas dan cuci/ganti masker tersebut sekali sehari untuk melindungi anda dari pajanan infeksi serta melindungi orang-orang disekitar anda dari penularan penyakit.  Ingat! TB dapat dicegah dan diobati selama anda mengikuti anjuran dokter dan selalu kontrol dan berobat ke dokter terdekat. Jaga dan lindungi diri anda dan orang terdekat anda dengan selalu mengikuti anjuran dokter.


Oleh : dr. Rizky Andriani, Sp.P, FAPSR     
     

Delete this element to display blogger navbar

 
© RS Citra Harapan | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Develop by WELL PRO Management
Powered by Blogger